1. Belajar
Matematika
a. Pengertian
Belajar
Belajar
adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan.
Tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri
dalam interaksi dengan lingkungannya
(Slameto, 2003:2). Menurut
Gulo, W (2004:8) belajar adalah suatu proses yang berlangsung di dalam diri
seseorang yang mengubah tingkah laku dalam berpikir, bersikap dan berbuat. Hal
ini senada dengan pendapat Sardiman A.M.
(2005:21) belajar akan membawa suatu
perubahan pada individu-individu yang belajar. Perubahan tidak hanya berkaitan
penambahan ilmu pengetahuan,
tetapi juga berbentuk kecakapan, keterampilan, sikap, pengertian, harga diri, minat, watak,
dan penyesuaian diri.
Belajar juga merupakan akibat adanya
interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat
menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting
adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon.
Menurut Thursan
Hakim (2002) belajar adalah suatu proses perubahan dalam kepribadian manusia
dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan
kuantitas tingkah laku seperti peningakatan pengetahuan, sikap, pemahaman,
keterampilan, daya fikir
dan kemampuan lainnya.
Menurut
W.S. Winkel (dalam tim pengembang ilmu
pendidikan FIP-UPI, 2007:328) Belajar
adalah semua aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam
interaksi aktif dalam lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam
pengelolaan pemahaman.
Dari beberapa pengertian belajar di atas maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah semua aktivitas mental
atau psikis yang dilakukan oleh seseorang sehingga menimbulkan perubahan
tingkah laku yang berbeda antara sesudah belajar dan sebelum belajar.
b. Belajar
Matematika
Belajar matematika
merupakan proses belajar untuk lebih meningkatkan ketrampilan dan kualitas
dibidang matematika. Tujuan belajar matematika itu sendiri adalah sesuatu yang
ingin dicapai setelah proses belajar mengajar matematika berlangsung dengan
baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang.
Dalam proses belajar mengajar matematika, seorang siswa tidak
dapat mengetahui jenjang yang lebih tinggi tanpa melalui dasar atau hal-hal
yang merupakan prasyarat dalam kelanjutan program pengajaran selanjutnya. Untuk
mempelajari matematika dituntut kesiapan siswa dalam menerima pelajaran,
kesiapan yang dimaksud adalah kematangan intelektual dan pengalaman belajar
yang telah dimiliki oleh anak, sehingga hasil belajar lebih bermakna bagi
siswa.
Hudoyo (1988:4) berpendapat bahwa “belajar matematika yang
terputus-putus akan mengganggu proses belajar”. Pendapat serupa dikemukakan Russeffendi (1988:25) bahwa
belajar matematika bagi seorang anak merupakan proses yang kontinu sehingga
diperlukan pengetahuan dan pengertian dasar matematika yang baik pada permukaan
belajar untuk belajar selanjutnya. Proses belajar matematika haruslah diawali
dengan mempelajari konsep-konsep yang lebih mendalam dengan menggunakan
konsep-konsep sebelumnya atau dengan kata lain bahwa proses belajar matematika
adalah suatu rangkaian kegiatan belajar mengajar dalam interaksi hubungan
timbal balik antara siswa dengan guru yang ber-langsung dalam lingkungan yang
ada disekitarnya untuk mencapai tujuan tertentu.
Matematika sebagai salah satu pelajaran yang diberikan di setiap
jenjang pendidikan memiliki banyak definisi. Menurut Soedjadi (1999:11)
matematika memiliki beberapa definisi yaitu:
1.
Matematika
adalah cabang ilmu pengetahuan eksak dan terorganisir.
2. Matematika adalah pengetahuan tentang penalaran logik dan berhubungan
dengan bilangan.
3.
Matematika
adalah pengetahuan tentang bilangan dan kalkulasi.
4. Matematika adalah pengetahuan tentang fakta-fakta kuantitatif dan
masalah tentang ruang dan bentuk.
5.
Matematika
adalah pengetahuan tentang struktur-struktur yang logik.
6.
Matematika
adalah pengetahuan tentang aturan-aturan yang ketat.
Belajar
Matematika sendiri memiliki keunikan yang membuatnya berbeda dengan belajar
secara umum. Dalam belajar matematika
perlu disesuaikan dengan perkembangan kognitif siswa. Hal ini sesuai dengan
pendapat Dienes (dalam Agustina, 2009:8)
bahwa ”Belajar matematika melibatkan suatu struktur hierarki dari konsep-konsep
tingkat lebih tinggi yang dibentuk atas dasar apa yang telah terbentuk
sebelumnya. Belajar matematika pada konsep yang lebih tinggi tidak mungkin bila
prasyarat yang mendahului konsep-konsep itu belum dipelajari.” Dengan demikian,
untuk dapat menguasai materi pelajaran matematika pada tingkat kesukaran yang
lebih tinggi diperlukan penguasaan materi tertentu sebagai pengetahuan
prasyarat.
Penguasaan
yang tinggi akan dapat dimiliki siswa dalam mempelajari matematika bila guru
tidak hanya menuntut siswanya untuk menghafal rumus saja, tetapi lebih penting adalah
memberikan pemahaman yang penuh terhadap konsep-konsep yang disampaikan.
Berdasarkan di atas, dapat dikatakan bahwa Belajar Matematika adalah proses
dalam diri siswa yang hasilnya berupa perubahan pengetahuan, sikap,
keterampilan untuk menerapkan konsep-konsep, struktur dan pola dalam matematika
sehingga menjadikan siswa berfikir logis, kreatif, sistematis dalam kehidupan sehari-hari.
Belajar matematika akan lebih berhasil bila mengarah pada pengembangan berfikir,
pengembangan konsep atau ide-ide terdahulu yang dipersiapkan untuk mempelajari
dan menguasai konsep baru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar