Pengertian Belajar
a. Pengertian belajar yang popular
1. Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan
melalui pengalaman. Menurut pengertian
ini, belajar merupakan suatu proses kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan.
2. Belajar adalah memperoleh pengetahuan, latahan-latihan
pembentukan kebiasaan secara otomatis.
3. Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku
individu melalui interaksi dengan lingkungan.
b. Pengertian belajar menurut beberapa aliran psikologi
1.
Menurut psikologi klasik
Belajar adalah all learning is a
process of developing or training of mind. Kita belajar melihat objek
dengan menggunakan substansi dan sensasi. Kita mengembangkan kekuatan mencipta,
ingatan, keinginan dan pikiran dengan melatihnya.
2.
Menurut psikologi daya
Belajar adalah daya mengingat, berpikir,merasakan,kemauan yang telah
dilatih yang saling mempengaruhi, sehingga seseorang dapat melakukan transfer or learning.
3.
Menurut teori mental state
Belajar adalah memperoleh pengetahuan melalui alat indra yang disampaikan
dalam bentuk perangsang-perangsang dari luar.
4.
Menurut psikologi behavioristik
Belajar adalah latihan-latihan pembentukan hubungan antara stimulus dan
respon.
5.
Menurut psikologi gestalt
Belajar dimulai dari suatu keseluruhan mulai dari satu unit yang kompleks
menuju ke hal-hal yang mudah dimengerti, diferensiasi pengetahuan dan
kecakapan.
c. Pengertian belajar menurut Ausubel dalam (Dahar, 1988: 134)
Belajar dapat diklasifikasikan ke dalam dua dimensi:
1.
Dimensi pertama berhubungan dengan cara informasi atau
materi disajikan pada siswa, melalui penemuan atau penerimaan. Belajar
penerimaan menyajikan materi dalam bentuk final, dan belajar penemuan
mengharuskan siswa untuk menemukan sendiri sebagian atau seluruh materi yang
diajarkan.
2.
Dimensi kedua berkaitan dengan bagaimana cara siswa
dapat mengaitkan informasi atau materi pelajaran pada struktur kognitif yang
telah dimilikinya, ini berarti belajar bermakna. Akan tetapi jika siswa hanya
mencoba-coba menghafal informasi baru tanpa menghubungkan dengan konsep-konsep
yang telah ada dalam struktur kognitifnya, maka dalam hal ini terjadi belajar
hafalan.
Hakikat Belajar Bermakna
Dalam belajar apapun, belajar efektif (sesuai tujuan)
semestinya bermakna. Agar bermakna, belajar tidak cukup dengan hanya mendengar
dan melihat tetapi harus dengan melakukan aktivitas (membaca, bertanya,
menjawab, berkomentar, mengerjakan, mengkomunikasikan, presentasi, diskusi).
Dalam bahasa Sunda ada pepatah “pok-pek-prak” yang
berarti bahwa belajar mempunyai indikator berkata-pok
(bertanya-menjawab-diskusi,presentasi). Mencoba-pek (menyelidiki,
meng-identifikasi, menduga, menyimpulkan, menemukan), dan melaksanakan-prak
(mengaplikasikan, menggunakan, memanfaatkan, mengembangkan).
Tokoh pendidikan
nasional Ki Hajar Dewantoro (1908) mengemukakan tiga prinsip pembelajaran ing
ngarso sung tulodo (jadi pemimpin-guru jadilah teladan bagi siswanya), ing
madyo mangun karso (dalam pembelajaran membangun ide siswa dengan aktivitas
sehingga kompetensi siswa terbentuk), tut wuri handayani (jadilah fasilitator
kegiatan siswa dalam mengembangkan life skill sehingga mereka menjadi pribadi
mandiri). Dengan perkataan lain, pembelajaran adalah solusi tepat untuk
pelaksanaan kurikulum 2006, dan bukan dengan kegiatan mengajar.
Selanjutnya, Vernon A Madnesen (1983) san Peter Sheal
(1989) mengemukakan bahwa kebermaknaan belajar tergantung bagaimana cara
belajar. Jika belajar hanya dengan membaca kebermaknaan bisa mencapai 10%, dari
mendengar 20%, dari melihat 30%, mendengar dan melihat 50%, mengatakan/komunikasi
mencapai 70 %, dan belajar dengan melakukan dan mengkomunikasikan bisa mencapai
90%.
Dari uraian di atas implikasi terhadap pembelajaran
adalah bahwa kegiatan pembelajaran identik dengan aktivitas siswa secara
optimal, tidak cukup dengan mendengar dan melihat, tetapi harus dengan
hands-on, minds-on, konstruktivis, dan daily life (kontekstual).
Menurut Ausubel
terdapat kesejajaran antara cara menata atau mengorganisasikan mata
pelajaran dengan cara manusia menata pengetahuan dalam pikiran. Setiap bidang
ilmu memiliki susunan (stuktur) konsep atau teori yang disusun secara hierarkis
(berurutan dari yang paling sederhana ke yang paling sulit).
Ausubel juga percaya bahwa stuktur atau susunan konsep
suatu bidang ilmu/pengetahuan dapat dipilih dan diajarkan kepada para pelajar melalui
proses pengolahan informasi antara lain : anak memahami, menganalisis, dan
menerapkan konsep untuyk memecahkan masalah yang dihadapi.
Dalam kerangka proses pengolahan informasi Ausubel
(Joyce dan Weil 1986) memaparkan bahwa pikiran merupakan suatu sistem
pengolahan dan pengimpanan informasi. Suatu ide atau konsep baru dapat
dipelajari dan disimpan dalam pikiran dengan baik jika hal tersebut dapat
dikaitkan pada konsep yang telah ada dalam pikiran. Disinilah letak hakikat belajar
bermakna.
Tiga persyaratan dasar untuk belajar bermakna meliputi:
peserta didik yang relevan sebelum pengetahuan, berarti materi (sering dipilih
oleh guru) dan peserta didik pilihan (digunakan untuk belajar, bukan berarti dengan
belajar). Yang penting keuntungan dari belajar bermakna adalah dapat diterapkan
dalam berbagai konteks atau masalah baru. Kuasa ini dipindahkan diperlukan
untuk berpikir kreatif.
Guru dapat mendorong pemikiran kreatif dengan
menggunakan alat-alat seperti peta konsep. Konsep peta
terutama didasarkan pada teori belajar kognitif dari psikolog, khususnya
Ausubel's Assimilation teori. konsep peta mewakili ide membantu dengan cara
yang model seorang individu dari struktur kognitif.
Faktor-faktor utama yang mempengaruhi belajar bermakna
menurut Ausubel adalah struktur kognitif yang ada, stabilitas, dan kejelasan
pengetahuan dalam suatu bidang studi tertentu dan pada waktu tertentu.
Sifat-sifat struktur kognitif menentukan validitas dan
kejelasan arti-arti yang timbul waktu informasi baru masuk ke dalam struktur
kognitif itu; demikian pula sifat proses interaksi yang terjadi. Jika struktur
kognitif itu stabil, dan diatur dengan baik, maka arti-arti yang sah dan jelas
atau tidak meragukan akan timbul dan cenderung bertahan. Tetapi sebaliknya jika
struktur kognitif itu tidak stabil, meragukan, dan tidak teratur, maka struktur
kognitif itu cenderung menghambat belajar dan retensi.
Belajar Bermakna Secara Kognitif,
Afektif dan Psikomotorik
Harus disadari bahwa proses belajar dalam dunia
persekolahan bukan merupakan pengalaman belajar yang pertama bagi anak karena
dia sudah belajar dalam lingkungan keluarga dan masyarakat sekitarnya. Dari
interaksi ini, pada diri anak telah terbentuk konsep dan sikap serta aspek
psikologis lainnya yang akan dibawanya sebagai modal dasar perilaku (entry behavior).
Dengan menggunakan konsep “Belajar bermakna” para guru
hendaknya menyesuaikan apa yang diajarkan dan bagaimana cara mengajarkan hal
itu dengan apa yang telah ada dalam diri anak sebagai buah dari pengalamannya.
Jika tidak, maka tidak akan memberi arti atau tidak bermakna bagi perkembangan
anak. Proses belajar yang bermakna adalah proses belajar yang dapat memberi
nilai lebih atau nilai tambah.
Menurut Taxonomi Bloom, kebermaknaan belajar dapat
dilihat dari aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.
a. Aspek kognitif
Menurut Bloom, aspek kognitif menitikberatkan pada proses intelektual,
antara lain :
1.
Pengetahuan
2.
Pemahaman
3.
Penerapan (aplikasi)
4.
Analisis (pengkajian)
5.
Sintesis
6.
Evaluasi
b. Aspek afektif
Aspek afektif adalah sikap, perasaan, emosi dan karakteristik moral yang
merupakan aspek-aspek penting perkembangan siswa. Menurut Krathwohl, Bloom dan
Masia, aspek afektif meliputi :
1.
Penerimaan
2.
Sambutan (respon)
3.
Menilai (evaluasi)
4.
Organisasi
5.
Karakteristik
c. Aspek psikomotorik
Aspek psikomotorik menunjukkan pada gerakan-gerakan dan kontrol
jasmaniah. Menurut Elizabeth Simpson (1966-1967), aspek psikomotorik meliputi :
1.
Persepsi
2.
Kesiapan
3.
Respon terbimbing
4.
Mekanisme
5.
Respon yang unik
6.
Adaptasi
7.
Organisasi
Cara Melestarikan Belajar Bermakna
Melestarikan merupakan upaya memelihara dan
mengembangkan hal-hal yang baik dan telah diterima dalam proses belajar yang
bermakna. Untuk dapat melestarikan belajar bermakna, perlu diupayakan hal-hal
sebagai berikut :
1.
Guru harus selalu melakukan pengkajian pengalaman
lampau anak.
2. Guru selalu memafaatkan apa yang detahuinya tenang anak
dalam merancang, empersipkan dan menglola kegiatan belajar.
3. Guru dan murid selalu mengaitkan materi dan prosebela
dengan hal-hal yang pernah, sedang, dan akan dialami anak baik di sekolah
maupun di luar sekolah.
4. Guru dan murid selalu memanfaatkan aneka ragam, sumber
belajar tentang yang ada di lingkungan setempat dan yang dapat dijangkau atau
diupayakan ketersediaannya di sekolah.
5. Membudayakan kebiasaan belajar yang baik secara
individual dan kelompok, dan memberi penguatan atas kebiasaan yang baik
itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar