Rabu, 27 Juni 2012

Pengertian Belajar

Pengertian Belajar
a. Pengertian belajar yang popular
1.  Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui   pengalaman. Menurut pengertian ini, belajar merupakan suatu proses kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan.
2.    Belajar adalah memperoleh pengetahuan, latahan-latihan pembentukan kebiasaan secara otomatis.
3.  Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan. 
b. Pengertian belajar menurut beberapa aliran psikologi
1.      Menurut psikologi klasik
Belajar adalah all learning is a process of developing or training of mind. Kita belajar melihat objek dengan menggunakan substansi dan sensasi. Kita mengembangkan kekuatan mencipta, ingatan, keinginan dan pikiran dengan melatihnya.
2.      Menurut psikologi daya
Belajar adalah daya mengingat, berpikir,merasakan,kemauan yang telah dilatih yang saling mempengaruhi, sehingga seseorang dapat melakukan transfer or learning.
3.      Menurut teori mental state
Belajar adalah memperoleh pengetahuan melalui alat indra yang disampaikan dalam bentuk perangsang-perangsang dari luar.
4.      Menurut psikologi behavioristik
Belajar adalah latihan-latihan pembentukan hubungan antara stimulus dan respon.
5.      Menurut psikologi gestalt
Belajar dimulai dari suatu keseluruhan mulai dari satu unit yang kompleks menuju ke hal-hal yang mudah dimengerti, diferensiasi pengetahuan dan kecakapan.
c. Pengertian belajar menurut Ausubel dalam (Dahar, 1988: 134)
Belajar dapat diklasifikasikan ke dalam dua dimensi:
1.      Dimensi pertama berhubungan dengan cara informasi atau materi disajikan pada siswa, melalui penemuan atau penerimaan. Belajar penerimaan menyajikan materi dalam bentuk final, dan belajar penemuan mengharuskan siswa untuk menemukan sendiri sebagian atau seluruh materi yang diajarkan.
2.      Dimensi kedua berkaitan dengan bagaimana cara siswa dapat mengaitkan informasi atau materi pelajaran pada struktur kognitif yang telah dimilikinya, ini berarti belajar bermakna. Akan tetapi jika siswa hanya mencoba-coba menghafal informasi baru tanpa menghubungkan dengan konsep-konsep yang telah ada dalam struktur kognitifnya, maka dalam hal ini terjadi belajar hafalan.
Hakikat Belajar Bermakna
Dalam belajar apapun, belajar efektif (sesuai tujuan) semestinya bermakna. Agar bermakna, belajar tidak cukup dengan hanya mendengar dan melihat tetapi harus dengan melakukan aktivitas (membaca, bertanya, menjawab, berkomentar, mengerjakan, mengkomunikasikan, presentasi, diskusi).
Dalam bahasa Sunda ada pepatah “pok-pek-prak” yang berarti bahwa belajar mempunyai indikator berkata-pok (bertanya-menjawab-diskusi,presentasi). Mencoba-pek (menyelidiki, meng-identifikasi, menduga, menyimpulkan, menemukan), dan melaksanakan-prak (mengaplikasikan, menggunakan, memanfaatkan, mengembangkan). 
 Tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantoro (1908) mengemukakan tiga prinsip pembelajaran ing ngarso sung tulodo (jadi pemimpin-guru jadilah teladan bagi siswanya), ing madyo mangun karso (dalam pembelajaran membangun ide siswa dengan aktivitas sehingga kompetensi siswa terbentuk), tut wuri handayani (jadilah fasilitator kegiatan siswa dalam mengembangkan life skill sehingga mereka menjadi pribadi mandiri). Dengan perkataan lain, pembelajaran adalah solusi tepat untuk pelaksanaan kurikulum 2006, dan bukan dengan kegiatan mengajar.
Selanjutnya, Vernon A Madnesen (1983) san Peter Sheal (1989) mengemukakan bahwa kebermaknaan belajar tergantung bagaimana cara belajar. Jika belajar hanya dengan membaca kebermaknaan bisa mencapai 10%, dari mendengar 20%, dari melihat 30%, mendengar dan melihat 50%, mengatakan/komunikasi mencapai 70 %, dan belajar dengan melakukan dan mengkomunikasikan bisa mencapai 90%.
Dari uraian di atas implikasi terhadap pembelajaran adalah bahwa kegiatan pembelajaran identik dengan aktivitas siswa secara optimal, tidak cukup dengan mendengar dan melihat, tetapi harus dengan hands-on, minds-on, konstruktivis, dan daily life (kontekstual).
Menurut Ausubel  terdapat kesejajaran antara cara menata atau mengorganisasikan mata pelajaran dengan cara manusia menata pengetahuan dalam pikiran. Setiap bidang ilmu memiliki susunan (stuktur) konsep atau teori yang disusun secara hierarkis (berurutan dari yang paling sederhana ke yang paling sulit).
Ausubel juga percaya bahwa stuktur atau susunan konsep suatu bidang ilmu/pengetahuan dapat dipilih dan diajarkan kepada para pelajar melalui proses pengolahan informasi antara lain : anak memahami, menganalisis, dan menerapkan konsep untuyk memecahkan masalah yang dihadapi.
Dalam kerangka proses pengolahan informasi Ausubel (Joyce dan Weil 1986) memaparkan bahwa pikiran merupakan suatu sistem pengolahan dan pengimpanan informasi. Suatu ide atau konsep baru dapat dipelajari dan disimpan dalam pikiran dengan baik jika hal tersebut dapat dikaitkan pada konsep yang telah ada dalam pikiran. Disinilah letak hakikat belajar bermakna.
Tiga persyaratan dasar untuk belajar bermakna meliputi: peserta didik yang relevan sebelum pengetahuan, berarti materi (sering dipilih oleh guru) dan peserta didik pilihan (digunakan untuk belajar, bukan berarti dengan belajar). Yang penting keuntungan dari belajar bermakna adalah dapat diterapkan dalam berbagai konteks atau masalah baru. Kuasa ini dipindahkan diperlukan untuk berpikir kreatif.
Guru dapat mendorong pemikiran kreatif dengan menggunakan alat-alat seperti peta konsep. Konsep peta terutama didasarkan pada teori belajar kognitif dari psikolog, khususnya Ausubel's Assimilation teori. konsep peta mewakili ide membantu dengan cara yang model seorang individu dari struktur kognitif.
Faktor-faktor utama yang mempengaruhi belajar bermakna menurut Ausubel adalah struktur kognitif yang ada, stabilitas, dan kejelasan pengetahuan dalam suatu bidang studi tertentu dan pada waktu tertentu.
Sifat-sifat struktur kognitif menentukan validitas dan kejelasan arti-arti yang timbul waktu informasi baru masuk ke dalam struktur kognitif itu; demikian pula sifat proses interaksi yang terjadi. Jika struktur kognitif itu stabil, dan diatur dengan baik, maka arti-arti yang sah dan jelas atau tidak meragukan akan timbul dan cenderung bertahan. Tetapi sebaliknya jika struktur kognitif itu tidak stabil, meragukan, dan tidak teratur, maka struktur kognitif itu cenderung menghambat belajar dan retensi.
Belajar Bermakna Secara Kognitif, Afektif dan Psikomotorik
Harus disadari bahwa proses belajar dalam dunia persekolahan bukan merupakan pengalaman belajar yang pertama bagi anak karena dia sudah belajar dalam lingkungan keluarga dan masyarakat sekitarnya. Dari interaksi ini, pada diri anak telah terbentuk konsep dan sikap serta aspek psikologis lainnya yang akan dibawanya sebagai modal dasar perilaku (entry behavior).
Dengan menggunakan konsep “Belajar bermakna” para guru hendaknya menyesuaikan apa yang diajarkan dan bagaimana cara mengajarkan hal itu dengan apa yang telah ada dalam diri anak sebagai buah dari pengalamannya. Jika tidak, maka tidak akan memberi arti atau tidak bermakna bagi perkembangan anak. Proses belajar yang bermakna adalah proses belajar yang dapat memberi nilai lebih atau nilai tambah.
Menurut Taxonomi Bloom, kebermaknaan belajar dapat dilihat dari aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.  
a. Aspek kognitif
Menurut Bloom, aspek kognitif menitikberatkan pada proses intelektual, antara lain :
1.      Pengetahuan
2.      Pemahaman
3.      Penerapan (aplikasi)
4.      Analisis (pengkajian)
5.      Sintesis
6.      Evaluasi
b. Aspek afektif
Aspek afektif adalah sikap, perasaan, emosi dan karakteristik moral yang merupakan aspek-aspek penting perkembangan siswa. Menurut Krathwohl, Bloom dan Masia, aspek afektif meliputi :
1.      Penerimaan
2.      Sambutan (respon)
3.      Menilai (evaluasi)
4.      Organisasi
5.      Karakteristik
c. Aspek psikomotorik
Aspek psikomotorik menunjukkan pada gerakan-gerakan dan kontrol jasmaniah. Menurut Elizabeth Simpson (1966-1967), aspek psikomotorik meliputi :
1.      Persepsi
2.      Kesiapan
3.      Respon terbimbing
4.      Mekanisme
5.      Respon yang unik
6.      Adaptasi
7.      Organisasi
Cara Melestarikan Belajar Bermakna
Melestarikan merupakan upaya memelihara dan mengembangkan hal-hal yang baik dan telah diterima dalam proses belajar yang bermakna. Untuk dapat melestarikan belajar bermakna, perlu diupayakan hal-hal sebagai berikut :
1.      Guru harus selalu melakukan pengkajian pengalaman lampau anak.
2.    Guru selalu memafaatkan apa yang detahuinya tenang anak dalam merancang, empersipkan dan menglola kegiatan belajar.
3.  Guru dan murid selalu mengaitkan materi dan prosebela dengan hal-hal yang pernah, sedang, dan akan dialami anak baik di sekolah maupun di luar sekolah.
4.   Guru dan murid selalu memanfaatkan aneka ragam, sumber belajar tentang yang ada di lingkungan setempat dan yang dapat dijangkau atau diupayakan ketersediaannya di sekolah.
5.    Membudayakan kebiasaan belajar yang baik secara individual dan kelompok, dan memberi penguatan atas kebiasaan yang baik itu.    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar